Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, senyum kerap menjadi simbol bahwa segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Penampilan rapi, tutur kata sopan, dan citra positif di ruang publik sering dianggap sebagai cerminan kehidupan yang stabil dan sukses. Namun, di balik semua itu, tidak sedikit orang justru menyimpan kelelahan emosional, kegelisahan, dan tekanan batin yang jarang terungkap.
Pengamat sosial Elthon Yulianus Laratmaset menilai bahwa masyarakat saat ini semakin terbiasa membangun citra diri dibandingkan merawat kondisi batin. Menurutnya, tuntutan sosial dan budaya pencitraan membuat banyak orang merasa harus selalu tampil kuat, meski sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
“Banyak orang terlihat tenang dan rapi di luar, tetapi di dalamnya penuh tekanan. Kita hidup di zaman ketika terlihat baik sering kali lebih penting daripada benar-benar sehat secara emosional,” kata Elthon.
Ia menjelaskan, media sosial dan lingkungan yang kompetitif turut memperkuat kebiasaan memakai “topeng kehidupan”. Keberhasilan mudah ditampilkan, sementara kegagalan, kesedihan, dan kebingungan kerap disembunyikan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran terhadap diri sendiri perlahan terkikis dan digantikan oleh kepura-puraan yang dianggap wajar.
Menurut Elthon, kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Ia menegaskan bahwa kehidupan yang terus dibangun di atas pencitraan berisiko menimbulkan kelelahan emosional yang serius. Ketika seseorang terlalu lama memendam tekanan demi menjaga penampilan, ia bisa kehilangan arah, makna hidup, bahkan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
“Penampilan luar memang memiliki fungsi sosial, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran kualitas hidup. Jika batin diabaikan, maka senyum dan kerapian justru menjadi simbol ketidakjujuran terhadap diri sendiri,” tegas Elthon.
Ia menambahkan, hidup yang sehat dan seimbang menuntut keberanian untuk mengakui keterbatasan serta memberi ruang bagi proses refleksi dan pemulihan diri. Menurutnya, keutuhan hidup tidak lahir dari kesempurnaan yang ditampilkan, melainkan dari kesediaan untuk jujur, menerima diri apa adanya, dan bertumbuh secara sadar.
Di tengah arus kehidupan modern yang penuh tuntutan dan ekspektasi, refleksi ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang tampak baik benar-benar baik. Di balik senyum dan topeng kehidupan modern, setiap orang perlu berhenti sejenak untuk bertanya pada dirinya sendiri tentang kejujuran hidup yang dijalani, karena hidup yang bermakna selalu dimulai dari keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri, pungkasnya.