Sorong – Di tengah perkembangan media sosial dan gaya hidup modern yang semakin terbuka, budaya pencitraan dinilai semakin memengaruhi cara manusia memandang dirinya dan orang lain. Keinginan untuk terlihat lebih baik, lebih berhasil, dan lebih dihargai sering kali membuat nilai kerendahan hati semakin terpinggirkan dalam kehidupan sosial.
Seorang pemerhati sosial, Elton Yulianus Laratmase, menilai bahwa secara naluriah manusia memang ingin dipuji, diperhatikan, dan dihargai. Namun ketika keinginan tersebut berkembang menjadi dorongan untuk selalu tampil lebih unggul dari orang lain, maka sikap gengsi sering kali mengalahkan kerendahan hati.
“Di era pencitraan seperti sekarang ini, banyak orang merasa perlu menunjukkan kelebihan dirinya agar mendapat pengakuan. Padahal kerendahan hati justru merupakan salah satu bentuk kedewasaan dalam bersikap,” ujarnya dalam refleksi sosial yang disampaikan kepada publik.
Menurut Elton, kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau merasa tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, sikap tersebut mencerminkan kemampuan seseorang untuk memposisikan dirinya setara dengan orang lain. Orang yang rendah hati tidak merasa lebih pintar, lebih hebat, atau lebih penting dari orang lain.
Ia menjelaskan bahwa kerendahan hati juga terlihat dari keberanian seseorang untuk mengakui kesalahan. Dalam kehidupan sosial, hal ini sering kali sulit dilakukan karena rasa gengsi. Banyak orang cenderung menutup-nutupi kekeliruan atau mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukan.
“Keberanian mengakui kesalahan justru menunjukkan kedewasaan seseorang. Dari situlah seseorang bisa belajar dan memperbaiki diri,” jelasnya.
Selain itu, kerendahan hati juga tercermin dari kemauan untuk terus belajar. Proses belajar, kata Elton, tidak hanya terjadi di lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman hidup sehari-hari dan interaksi dengan sesama.
“Setiap orang sebenarnya bisa menjadi guru bagi orang lain. Pengalaman, perjumpaan, bahkan kegagalan merupakan bagian dari proses belajar yang membentuk kedewasaan,” katanya.
Elton juga menekankan pentingnya hidup sederhana di tengah masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh citra dan popularitas. Kesederhanaan, menurutnya, bukan berarti hidup dalam kekurangan, tetapi lebih pada cara pandang yang tidak menjadikan status atau pengakuan sosial sebagai ukuran utama nilai diri.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin kompetitif, ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kerendahan hati sebagai bagian dari karakter sosial.
“Kerendahan hati adalah fondasi penting untuk membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai di tengah masyarakat,” pungkasnya.