Kota Sorong — Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kota Sorong, Elthon Yulianus Laratmase, S.Th, menegaskan bahwa tindakan perundungan atau bullying bukanlah sekadar candaan, melainkan perbuatan yang mempertaruhkan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Penegasan tersebut disampaikan dalam Ibadah OSIS SMA Negeri 2 Kota Sorong, Jumat (30/1/2026) pukul 12.00 WIT.
Ibadah OSIS yang berlangsung itu mengangkat tema “Bullying dalam Pandangan Alkitab”, dengan dasar firman Tuhan dari Kejadian 1:26, yang menekankan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran peserta didik akan pentingnya menghargai sesama sebagai ciptaan Tuhan yang berharga.
Dalam penyampaian firman, Elthon menjelaskan bahwa meskipun istilah bullying tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alkitab, namun seluruh bentuk penindasan, kekerasan verbal, ejekan, dan tindakan yang merendahkan martabat manusia secara tegas dikecam oleh firman Tuhan. “Bullying bertentangan langsung dengan hukum utama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, membully seseorang sama artinya dengan merendahkan gambar Allah dalam diri manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Kejadian 1:27. Setiap manusia memiliki nilai dan harga diri yang tak ternilai di mata Tuhan, sehingga tidak seorang pun berhak merendahkan atau melukai sesamanya, baik melalui perkataan maupun perbuatan.
Elthon juga mengingatkan bahwa kekerasan verbal sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius. Mengutip Amsal 18:21, ia menegaskan bahwa hidup dan mati dikuasai oleh lidah. “Ejekan, hinaan, dan kata-kata kasar dapat melukai mental dan emosional seseorang, bahkan berujung pada depresi hingga tindakan bunuh diri,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Allah berpihak kepada mereka yang tertindas dan menentang segala bentuk penindasan, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 10:17–18. Oleh karena itu, generasi muda dipanggil untuk tidak tinggal diam ketika melihat praktik bullying di sekitarnya.
Menurut Elthon, perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga di dunia kerja, lingkungan sosial, bahkan di dalam gereja. “Sering kali bullying berawal dari hal yang dianggap bercanda, namun tanpa disadari melukai dan merendahkan martabat orang lain,” katanya.
Ia juga menjelaskan adanya dua peran dalam praktik bullying, yakni pelaku aktif dan pelaku pasif. Pelaku aktif adalah mereka yang melakukan perundungan secara langsung, sedangkan pelaku pasif adalah orang-orang yang mengetahui adanya perundungan tetapi memilih diam dan tidak menolong korban. “Diam berarti ikut membiarkan ketidakadilan terjadi,” tegasnya